Melewatkan jam makan
siang sudah menjadi kebisasanku. Istilah istirahat makan siang orang Solo dan
sekitarnya adalah Rolasan (pukul
12.00 siang/jam istirahat). Setelah ibadah sholat Dzuhur orang-orang akan
beristirahat, mampir ke warung-warung makan. Mengapa melewatkan jam tersebut
menjadi pilihannya karena pada saat itu warung makan akan ramai dan antre. Lebih
baik aku menahan lapar sedikit lebih lama agar bisa lenggang dan tidak perlu
mengantre panjang-panjang.
Setelah lewat pukul 12.00
siang, seperti dugaanku warung langgananku agak lenggang dan aku bisa dilayani
dengan segera tanpa perlu mengantre lagi. Ada salah satu jajanan yang menjadi
favorit sebelum makan atau sebagai hindangan pembuka. Dan itu satu-satunya
kotak jajan yang sampai pukul berapapun masih tetap terisi atau jarang habis. Kotak
tersebut menghidangkan gorengan tapi bukan gorengan seperti biasanya. Gorengan
ini memadukan dua bahan menjadi satu-kesatuan yang utuh sehingga menjadi menu
baru yang diambil dari bahan asli itu sendiri. Berbentuk prisma segitiga
berukuran sedang kira-kira seukuran jari telunjuk dan ibu jari membentuk huruf “C”
dan menggelembung di bagian tengah. Warna coklat kekuningan seperti telur dadar
yang digoreng hampir gosong. Bertekstur kasar efek dari campuran telur pada
adonan penggorengan. Walaupun kasar ketika ditekan rasanya seperti mencubit
lengan sendiri karena ada campuran dagingnya. Selama aku makan di warung
tersebut jajanan itu datang dengan kondisi sudah dingin tapi pernah suatu waktu
aku makan dalam kondisi hangat. Pada saat kondisi sedang hangat ketika digigit
akan ada suara “krrrreeesss” dari garingnya tepung tapi kalau kondisi dingin
yang muncul malah “nyet-nyet, klethuk”
kenyal-kenyal gitu, jadinya lucu,
mendesit-desit seperti orang menguyah tapi tidak menutup mulut menghasilkan
suara aneh. Gorengan ini dominan aroma daging sapi dan tepung kanji. Bau tahunya
menghilang karena hasil digoreng dengan telur. Gigitan pertama akan terasa
sedikit alot karena campuran bahan daging. Gigitan kedua ada rasa gurih seperti
kita tidak sengaja menjilat jari kita sendiri dan selanjutnya kenyal-kenyal
permen karet.
Jajan ini sangat menjadi
idamanku karena ada dua bentuk dasar yang dijadikan. Pertama ada tahu dan
selanjutnya bakso maka dari bahan itulah akhirnya menjadi gorengan janis baru,
sesuai dengan namanya yaitu “Tahu Bakso.” Enak, murah, dan ngganjel meski aneh menjadi lauk pas makan siang tapi buatku
menyenangkan menggabungkan aneka macam makanan menjadi satu di dalam mulut.
No comments:
Post a Comment