Tuesday, January 14, 2020

Opini


Media Sosial dan Bahasa
Oleh: Hazmi Hakam Rosyidi

Kehadiran media sosial telah mengisi ruang-ruang kosong antara manusia satu dengan manusia yang lain. Interaksi antar manusia mulai berpindah medium. Berawal dari ‘menulis’ surat menjadi ‘mengetik’ pesan. Media sosial hadir untuk mempersingkat segala macam kegiatan manusia. Perlu diakui bahwa manusia pasti mengeluh lalu menulisnya di sembarang media sedapat di sekitarnya. Kebiasan anak muda dulu menulis apa yang sedang dirasakan. Sekitar tahun 2010-2011 masa-masa SMP.
Sering dijumpai coretan-coretan di bangku kelas tertulis keresahan laki-laki terhadap sikap dingin yang ditunjukkan perempuan idamannya. Ada lagi yang sering kita jumpai coretan “Sakti ‘love’ Fira” sebenarnrya tulisan tersebut adalah isi hati Wahyu tetapi dia takut mengungkapkannya. Mungkin saja istilah ‘wall’ pada Facebook berangkat dari fenomena tentang coretan-coretan dari tembok atau bangku dan apa lagi Facebook pasti menanyakan ‘Apa yang sedang ada dipikiranmu?’.
Sama halnya kita berkomunikasi tatap muka, media sosial menggunakan bahasa sebagai alat komunakasi. Bahasa menjadi penting dalam berkomunikasi. Sering sekali kita melihat terjadi perkelahian di dalam sebuah rapat terjadi bisa karena salah ucap. Itulah kenapa bahasa itu penting. Ketika saling bertatap muka saja masih bisa terjadi salah paham ataupun salah arti bagaimana jika kita tidak melihat secara langsung?
Katakanlah media sosial sekarang memiliki fitur panggilan video atau sering disebut dengan video call tetapi itu semua bergantung dengan jaringan. Pada saat kita sedang melakukan panggilan video, membicarakan hal-hal penting, perlu kecermatan dalam memahaminya dan tiba-tiba putus koneksi sehingga lawan bicara kita mendapat informasi yang setengah-setengah, itu dapat menjadi permasalahan tersendiri.
Bahasa itu penting dalam berkomunikasi atau bersosial dan terlebih manusia adalah makhluk sosial. Media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Whatsapp, dan lain sebagainya itu hanya sebuah media. Sebagai wadah kita mengekspresikan diri, menunjukkan warna kita, mengungkapkan opini. Sayangnya ketika seseorang bersuara di media sosial tidak diiringi dengan kecakapan berbahasa. Seseorang dengan mudah termakan oleh ‘tulisan’ orang lain di media sosial.
Fenomena penggunaan bahasa Indonesia di media sosial saat ini cukup mengagetkan. Bisa dikatakan mahasiswa saat ini lebih bangga menggunakan bahasa Internasional (Inggris) ketimbang bahasa Indonesia dalam bermedia sosial. Selain itu ada anggapan bahwa bermain Twitter harus menggunakan bahasa Inggris biar ‘keren’. Kenyataannya, sejumlah aplikasi media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Twitter sudah memasukkan fitur terjemahan pada aplikasinya. Seharusnya ketika mahasiswa menulis menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dan benar para pengguna dari berbagai macam bahasa-masyarakat Internasional-akan mengerti dan paham tentang apa yang ditulis. Jadi, tidak perlu repot-repot mengikuti gengsi.
Perlu adanya pembinaan dalam penggunaan bahasa Indonesia terlebih di kalangan mahasiswa, dosen, tentunya seluruh civitas kampus. Apalagi dengan adanya wacana bahwa bahasa Indonesia sedang dikaji dan akan dijadikan bahasa Internasional. Tapi sayang sekali sepertinya pembinaan penggunaan bahasa Indonesia yang sesuai dan benar di media sosial akan sulit. Jika pembinaan itu dilakukan di lingkungan kampus, pada saat pembelajaran, atau dalam diskusi-diskusi masih ada harapan untuk melakukan pembinaan. Sejalan dengan ini semua yang harus kita pegang adalah slogan dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa: “utamakan bahasa Indonesia, lestarikan dan lindungi bahasa daerah, serta pelajari dan kuasai bahasa asing”.

Wednesday, October 30, 2019

Ulasan Produk Pods Super Minimalis


MARS oleh Hero 57 x Teslacigs




Terlepas dari berbagai macam pemberitaan buruk maupun baik tentang vape tetap saja masih banyak penggunanya. Kemunculan device-device baru menunjukkan banyaknya peminat. Sekitar 1 juta orang merupakan perokok elektrik (vape) dan mayoritas berada di kota-kota besar.

Ketua Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), Aryo Andrianto menyebutkan vape merupakan bagian dari terapi untuk berhenti merokok tembakau, dimana perkembangan pasar vape terus tumbuh sejak legalitas penggunaan vape baru dimulai pada 2018. (CNBC Indonesia 17/9/19).
Hero 57 bersama Teslacigs (produsen vape) berkolaborasi mengeluarkan produk pods atau close-system yang bernama “Mars”. Produk ini dikeluarkan sekitar bulan Juli dan memiliki peminat yang banyak. Salah satunya saya sendiri.

Mars ini mempunyai berbentuk seperti stik es krim tetapi sedikit menggelembung. Pada sisi kiri dan kanan terdapat permukaan datar. Mudah dipegang dan tidak licin karena berbahan seperti metal. Tidak meninggalkan bekas sidik jari jika disentuh. Warna didominasi oleh abu-abu kehitaman terlihat elegan dan mewah. Ukurannya sekitar 12 cm.

Mars ini memiliki bentuk yang sederhana dan minimalis ini tetapi memiliki peforma yang pas karena tergantung pemakainya. Didukung dengan batrai 350 mAh untuk penggunaan santai dan tidak terlalu sering mungkin bisa digunakan 2-3 hari. Karena kapasistas batrai hanya 350 mAh untuk pengisian dayanya menghabiskan waktu sekitar 20-30 menit saja. Dan sudah bisa digunakan kembali.

Mars ini sudah menggunaka teknologi sensor inhale. Jadi, ketika ingin menggunakan kita tinggal sedotnya pada lubang firing-nya. Tanpa perlu pencet-pencet. Pada produk pod yang lain biasanya masih menggunakan tombol dan harus menakan sebanyak lima kali untuk mengaktifkan dan mematikannya. Karena sudah menggunakan sensor jadi cukup simpel untuk penggunaannya.

Mars ini dibandrol dengan harga Rp. 200.000 dengan kelengkapan batrei/mesin (device), satu catridge, dan satu kabel USB. Tetapi jika ingin mendapatkan liquid bisa dengan menambah Rp. 150.000 bisa dapat tiga catridge, dan satu liquid pods-friendly berukuran 15 ml. Jadi, total Rp. 350.000 sudah bisa ngebul-ngebul tipis.

Bagi kebanyakan orang karena berbahan metal menjadi kekurangan.Mars akan terasa sangat licin dan sering kali slip. Untuk permasalahan slip kita bisa akali dengan penggunakan lineyard atau semacam kalung yang diantung di leher, jadi tidak perlu khawatir pod kita akan jatuh. Kekurangan selanjutnya adalah pada lampu indikator yang hanya memiliki satu warna yaitu, putih. Kebanyakan produk lampu indikator menjadi penting karena sebagai penunjukkan kapasitas batrai, indikator on-off, dan pengisian daya.

Secara keseluruhan pods Mars keluaran Hero 57 yang berkolaborasi dengan Teslacigs ini memuaskan. Hanya beberapa kekurangan yang seharusnya bisa ditutupi. Untuk produk selanjutnya penggunaan lampu indikator pada device close-system sangat penting. Selain sebagai penunjuk batrai juga dapat sebagai penunjuk jika terjadi kesalahan pemasangan catridge, ataupun bila terjadi konsleting.




Sunday, April 14, 2019

Kemana Suara Anak Rantau Berlabuh?




SOLO – Aisyah Aminin salah satu pemilih asal kota Tuban yang tidak bisa memilih di Tempat Pemungutan Suara (TPS) daerah asal karena sekarang dia melanjutkan pendidikan tinggi dan tengah melaksanakan Ujian Tengah Semester di Solo.
Sesuai dengan surat edaran nomor: 307/A.2-II/SR/III/2019 UMS mengadakan Ujian Tengah Semester (UTS) dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama dimulai dari tanggal 8-13 April 2019 lalu tahap kedua diadakan tanggal 22-24 April 2019. Menginat adanya pelaksanaan pemilu pada rabu, 17 April 2019.

Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surakarta ini sering dipanggil dengan nama Mimin sekarang menjabat sebagai anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Mahasiswi yang aktif dalam kegiatan mengembangkan minat dan bakat mahasiswa karena kesibukannya dalam berkegiatan, Mimin tidak bisa pulang ke rumah untuk mengikuti pemungutan suara yang akan di selenggarakan Rabu, 17 April 2019.

 “Sebetulnya ingin sekali pulang, sudah lama nggak pulang karena ada urusan di kampus akhirnya tidak bisa pulang ke rumah.” Jawab Mimin dalam percakapan Whatsapp. Kendati demikan pada saat ditanyai mengenai form A5, Mimin juga kebingunan. “Saya tidak mengetahui apa itu form A5.” Ujar Mimin.

Form A5 atau formulir A5 sendiri adalah formulir untuk surat pengantar kepada KPU daerah asal untuk pindah memilih di daerah tinggal sekarang. Form tersebut digunakan sebagai bukti bahwa pemilih sudah terdaftar dan sedang dalam kondisi tertentu seperti pindah dari daerah asal. Fenomena tersebut terjadi karena sedang dalam tugas, bisa bersekolah atau bekerja di luar daerah KTP asal.

“Iya tahu, tetapi waktu ingin mengurus telat dan dulu info tentang form A5 tidak disosialisasikan secara menyeluruh.” Jawab Mimin. Sebenarnya dia berkeinginan untuk pulang kampung dan mengikuti pemilu. Menurutnya sosialisasi mengenai form A5 seharusnya diakan dari pihak kampus agar nantinya seluruh mahasiswa yang ingin pindah memilih mengetahui prosedur tesebut dan tidak ketinggal informasi seputar pemilu.

Polemik kotak suara 'kardus' (Ilustrasi: Andhika Akbaryanysah/detikcom)

Aryan salah satu mahasiswa UMS program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia tetap pulang meskipun bertempat tinggal di Banyumas. Dia tetap mengikuti pemungutan suara meskipun harus menempuh perjaralan dengan waktu tempuh 5-6 jam. Aryan mengetahui mengenai form A5 tetapi karena telat dia tidak sempat mengurus form tersebut.

“Ya, saya tahu mengenai formulir tersebut, tetapi karena setelah UTS ada libur jadi ya pulang aja.” Ujarnya saat di temui di kamar kost. “Hampir saja aku tidak bisa ikut pemilu karena harinya ada di tengah-tengah pekan UTS tetapi setelah adanya surat edaran dari Rektor jadiya pulang.” Tambahnya.

Menurutnya mahasiswa rantau yang tidak mengurus formulir A5 itu bisa jadi karena beberapa hal tetapi kebanyakan karena kesibukan dan kurangnya sosialisasi.

“Mungkin ya karena kurang sosialisasi ke kampus-kampus tapi kebanyakan karena sibuk urusan organisasi.” Tambah Aryan sebagai penutup wawancara.

Pada laman news.detik.com mulai Kamis, 21 Maret 2019 ada 669.737 pemilih urus dokemen pindah TPS. “Sampai dengan pagi ini, rekapitulasi pemilih yang melakukan kegiatan pindah memilih atau daftar pemilih tambahan, sebanyak 669.737 pemilih. Laki-laki 376.261 orang dan perempuan 293.476 pemilih,” kata Komisioner KPU Viryan Aziz di KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Kamis (21/3/2019).

Friday, April 5, 2019

Ngobrol menjadi Salah Satu Penyelesaian Masalah

Slamet Jumiarto. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom


Instagram adalah salah satu media sosial yang memiliki banyak peminat karena memiliki fitur yang terbarukan. Siaran langsung menjadi fitur yang sering digunakan pengguna Instagram untuk berinterkasi kepada pengikutnya. Pemilik akun @setengah_breweok ini sering bernyanyi dalam siaran langsung. Membawakan lagu luar menjadi kesukan Daud pemilik akun tersebut. Orangnya memiliki kulit sawo matang dengan wajah khas orang Ambon. Dia juga brewok tapi hanya setengah, yaitu pada bagian ujung tulang rahang belakang sedikit ke atas. Maka dari itu dia menamai akunya dengan Setengah Brewok.

Setelah melakukan siaran langsung saya mewawancarai dia melalui Whatsapp tentang kasus deskriminasi di Bantul, Yogyakarta. Kasus yang menimpa Slamet Jumiarto atau yang sering disapa Slamet harus mencari rumah kontrakan baru karena terbentur aturan RT 8 Dusun Karet, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Bantul. Khususnya aturan yang mengatur bahwa orang non Islam dilarang tinggal di Dusun tersebut. Aturan di dusun setempat bernomor 03/Pokgiat/Krt/Plt/X/2015 menyatakan bahwa warga beragama non-muslim dilarang tinggal karena berdasarkan rapat warga setempat di tahun 2015 untuk mengantisipasi adanya campur makam antara Muslim dan agama lain.

“Menurut saya sebagai seorang mahasiswa hukum, tentu itu merupakan sebuah pelanggaran Pancasila sila ke Satu dimana disebutkan, Ketuhanan Yang Maha Esa yang mana artinya di dalam pancasila itu harus bermakna terbuka atas setiap agama karena jika hanya satu agama saja maka persatuan itu sendiri tidak akan terjadi. Bahkan Negara kita juga punya semboyan Bhineka Tunggal Ika yg mempunyai makna "Berbeda-beda tetapi tetap satu jua". Serta dengan adanya kejadian seperti ini tentunya melanggar UU kebebasan penduduknya untuk memeluk agama dan kepercayaan masing-masing karena adanya aksi intoleran tersebut.” Ujar Daud mahasiswa fakultas Hukum di UNISRI.

Menurut Daud munculnya aturan pada dusun tersebut karena kurangnya tolenrasi antar warga setempat. Awalnya aturan tersebut hanya mengantispasi pencampuran makam antara umat Muslim dan agama lain. Pada saat itu mungkin belum terpikiran bila ada umat agama lain yang akan tinggal di dusun Karet.

“Aturan tersebut ada karena kurangnya rasa toleransi antar umat beragama.” Ujar Daud. “Terpikir atau tidaknya saya juga tidak tau, yg jelas dengan adanya kejadian seperti itu, secara tidak langsung mereka tidak menganggap keberadaan PANCASILA SEBAGAI DASAR HUKUM NEGARA INDONESIA.” Imbuhnya sambil mengakhir percakapan dalam pesan singkat.


Kejadian tersebut berakhir damai dengan diadakannya mediasi antara Slamet dengan beberapa pihak terkait, antara lain Pemkab Bantul, di Kantor Sekda Kabupaten Bantul. Saat itu, hadir pula kepala dukuh, lurah dan RT setempat. 

Gorengan Kenyal-Lembut



Melewatkan jam makan siang sudah menjadi kebisasanku. Istilah istirahat makan siang orang Solo dan sekitarnya adalah Rolasan (pukul 12.00 siang/jam istirahat). Setelah ibadah sholat Dzuhur orang-orang akan beristirahat, mampir ke warung-warung makan. Mengapa melewatkan jam tersebut menjadi pilihannya karena pada saat itu warung makan akan ramai dan antre. Lebih baik aku menahan lapar sedikit lebih lama agar bisa lenggang dan tidak perlu mengantre panjang-panjang.

Setelah lewat pukul 12.00 siang, seperti dugaanku warung langgananku agak lenggang dan aku bisa dilayani dengan segera tanpa perlu mengantre lagi. Ada salah satu jajanan yang menjadi favorit sebelum makan atau sebagai hindangan pembuka. Dan itu satu-satunya kotak jajan yang sampai pukul berapapun masih tetap terisi atau jarang habis. Kotak tersebut menghidangkan gorengan tapi bukan gorengan seperti biasanya. Gorengan ini memadukan dua bahan menjadi satu-kesatuan yang utuh sehingga menjadi menu baru yang diambil dari bahan asli itu sendiri. Berbentuk prisma segitiga berukuran sedang kira-kira seukuran jari telunjuk dan ibu jari membentuk huruf “C” dan menggelembung di bagian tengah. Warna coklat kekuningan seperti telur dadar yang digoreng hampir gosong. Bertekstur kasar efek dari campuran telur pada adonan penggorengan. Walaupun kasar ketika ditekan rasanya seperti mencubit lengan sendiri karena ada campuran dagingnya. Selama aku makan di warung tersebut jajanan itu datang dengan kondisi sudah dingin tapi pernah suatu waktu aku makan dalam kondisi hangat. Pada saat kondisi sedang hangat ketika digigit akan ada suara “krrrreeesss” dari garingnya tepung tapi kalau kondisi dingin yang muncul malah “nyet-nyet, klethuk” kenyal-kenyal gitu, jadinya lucu, mendesit-desit seperti orang menguyah tapi tidak menutup mulut menghasilkan suara aneh. Gorengan ini dominan aroma daging sapi dan tepung kanji. Bau tahunya menghilang karena hasil digoreng dengan telur. Gigitan pertama akan terasa sedikit alot karena campuran bahan daging. Gigitan kedua ada rasa gurih seperti kita tidak sengaja menjilat jari kita sendiri dan selanjutnya kenyal-kenyal permen karet.

Jajan ini sangat menjadi idamanku karena ada dua bentuk dasar yang dijadikan. Pertama ada tahu dan selanjutnya bakso maka dari bahan itulah akhirnya menjadi gorengan janis baru, sesuai dengan namanya yaitu “Tahu Bakso.” Enak, murah, dan ngganjel meski aneh menjadi lauk pas makan siang tapi buatku menyenangkan menggabungkan aneka macam makanan menjadi satu di dalam mulut.

Friday, March 8, 2019

Sinopsis Kill The Messenger

Kill The Messenger

sumber: https://www.imdb.com/
title/tt1216491/releaseinfo
pada tahun 1997 Amerika Serikat mengalami permasalahan nasional. yaitu penyelahgunaan obat atau narkotika. Gary Webb adalah seorang reporter kawak yang mengangkat cerita mengenai kasus-kasus penyalahgunaan obat di California. Lalu kasus tersebut menyeret banyak nama-nama penting. Kisah Kill the Messenger, yang diangkat dari kisah nyata itu, dimulai ketika Webb menulis tiga rangkaian artikel untuk suratkabar San Jose Mercury News tahun 1996 dalam tulisan itu mengklaim bahwa badan intelijen Amerika Serikat, Central Intelligence Agency (CIA) ikut bertanggung jawab membawa kokain ke Amerika Serikat pada 1980-an.
Webb melakukan penyelidikan selama setahun di mana ia menemukan bahwa jaringan pengedar obat bius di San Francisco memiliki hubungan dengan kelompok pemberontak di Nikaragua, yang disponsori CIA, dalam penjualan kokain ke penyalurnya di South Central Los Angeles. Jutaan dolar dari penjualan narkotika itu kemudian digunakan untuk mendanai perang rahasia CIA melawan rezim sayap kiri Sandinista di Nikaragua.


Singkatnya, tulisan Webb menuduh CIA terlibat memasukkan obat bius ke Amerika untuk mendanai Contras, pemberontak di Amerika Tengah. Tulisan Webb ini menarik perhatian ratusan ribu pembaca, termasuk anggota Kongres Maxine Waters, dari South Central Los Angeles. Ia meminta adanya penyelidikan federal dan kongres atas peran yang dimainkan pemerintah AS dalam membawa kokain ke komunitasnya.





Sumber: https://www.tportal.hr/kultura/clanak/vodimo-vas-na-premijeru-filma-ubijte-glasnika-20141209

Sejumlah pihak menyebut pelaporan Webb itu sebagai teori konspirasi. "Bahkan sumber-sumber yang secara rutin skeptis terhadap garis resmi soal Contras, setuju bahwa gagasan bahwa badan tersebut (CIA) berada di balik penyelundupan narkoba oleh Contras adalah fantasi," kata Eliane Shannon, jurnalis yang meliput perang terhadap narkoba, kepada majalah TIME, tak lama setelah San Jose Mercury News menulis artikel itu.
Koran-koran besar AS, seperti The New York TimesWashington Post dan Los Angeles Timesjuga menulis cerita soal itu dan melakukan penyelidikan sendiri. Hasilnya, dalam beberapa poin, liputan mereka berbeda dengan hasil investigasi Webb. Pada tahun 1997, editor eksekutif Mercury News Jerry Ceppos menarik dukungan atas laporan wartawannya itu dan menyebutnya sebagai cacat dalam editorialnya. Ceppos mengatakan bahwa surat kabar "tidak memiliki bukti" bahwa pejabat tinggi CIA tahu tentang hubungan antara perdagangan obat bius Los Angeles dan Contras.
Tak lama kemudian, Webb mengundurkan diri dari Mercury News. Tahun berikutnya, ia menerbitkan sebuah buku berjudul Dark Alliance: The CIA, the Contras and the Crack Cocaine Explosion yang merinci proses pelaporannya dan kontroversi yang diprovokasi oleh tulisannya. Tulisan, juuga buku Webb, menjadi kontroversi. Ada yang mendukung dugaannya, namun tak sedikit yang mengkritiknya. Menurut TIME, 'serangan' terhadap karya Webb itu membuat reputasinya sebagai wartawan investigasi ternoda.
Pada tahun 1998, laporan inspektur jenderal CIA membantah hubungan antara pemerintah AS dan pengedar narkoba seperti disebut Webb dalam artikel dan bukunya. Tapi, laporan itu mengkonfirmasi dugaan Webb bahwa CIA bekerja dengan Contras. CIA akhirnya mengeluarkan pernyataan tertulis mengenai keterlibatan Agensi Intelejen dalam menasok obat-obatan terlarang di beberapa kota di AS. Serta ketua CIA pada tahu itu mengundurkan diri dan dipenjara.
Pada 10 Desember 2004, Webb ditemukan tewas pada usia 49 dengan dua luka tembak di kepala. Polisi menyebut kasus itu murni bunuh diri. Mantan istri Webb, Sue Webb mengatakan, pria kelahiran 31 Agustus 1955 itu tampak tertekan bertahun-tahun karena belum mendapatkan pekerjaan di suratkabar. Webb masih terus menulis, tetapi secara keuangan tak bisa mendukung kehidupan keluarganya. Pada kurun waktu itu, sepeda motor Webb juga hilang dicuri. Ia juga harus melepas rumahnya juga karena masalah finansial, tak lama sebelum akhirnya ia ditemukan tewas.